Menuju Pertanian Pangan Berkelanjutan

Menuju Pertanian Pangan Berkelanjutan
December 1, 2019 No Comments Berkelanjutan, Eco-friendly, Kesehatan, Lingkungan, Pertanian admin

Bertempat di Grand Hotel Mempura telah dilaksanakan kegiatan diskusi publik (06/11) yang digagas oleh Perkumpulan Riau Hijau – RH (NGO). Selain menyampaikan hasil pendampingan yang telah dilakukan RH berupa pendataan dan pelatihan petani serta pemetaan areal pangan yang dilakukan di Kampung Buantan Lestari, Jayapura dan Kemuning Muda di Kecamatan Bungaraya, Kabupaten Siak, acara ini juga membahas program pertanian berkelanjutan bersama petani dan para pemangku kepentingan terkait, yang memiliki fokus pengurangan penggunaan bahan kimia sintetis dalam bertani atau sesuai dengan prosedur pertanian yang baik. Hal ini dilakukan karena melihat fenomena penggunaan bahan kimia secara berlebihan yang dilakukan oleh petani dalam mendapatkan produksi atau hasil yang tinggi.

Pemateri yang terlibat (dari kanan ke kiri: perwakilan Dinas PU Siak, ReCSI, Dinas Pertanian Siak, dan Dinas UMKM Koperasi Siak

Hasil riset menunjukkan bahwa penggunaan bahan kimia yang berlebihan ini telah memberi dampak negatif terhadap kesehatan dan lingkungan. “Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan di Jawa Tengah, seluruh sampel beras yang diambil di seluruh Kab/Kota di Jawa Tengah menunjukkan semua sampel beras itu mengandung residu pestisida,” ungkap Indra Purnama, PhD, Direktur Riset di Pusat Riset Indonesia Berkelanjutan (Research Center for Sustainable Indonesia – ReCSI), yang menjadi salah satu narasumber dalam pertemuan ini. Seperti kita ketahui, mengonsumsi produk makanan yang mengandung bahan kimia, termasuk pestisida dalam waktu yang lama akan menimbulkan berbagai penyakit yang mematikan, terlebih lagi kepada petani yang melakukan kontak langsung dengan pestisida. 

Selain diisi oleh ReCSI, diskusi publik ini juga berasal dari berbagai instansi, di antaranya dari Tri Ariyanto dari Riau Hijau, Suwanto dari Kabid. Tanaman Pangan Dinas Pertanian Kab. Siak, Tengku Amri dari Dinas Bina Marga dan Pengairan Kab. Siak, Juju dari Dinas Koperasi & UMKM Kab. Siak, serta Sutarno, petani organik dari Kampung Buantan Lestari.

“Salah seorang petani di Kemuning Muda pernah berkata kepada saya bahwa dia tidak mau memakan beras dari hasil sawahnya sendiri,” seloroh Tri sapaan akrab perwakilan RH ketika bercerita alasan mengapa kegiatan pertanian ini sangat mendesak dilakukan. Dengan adanya kesadaran ini, membuat RH terus memberikan pemahaman kepada petani tentang pentingnya menghasilkan beras yang aman dan sehat untuk kita konsumsi.

Sebenarnya kegelisahan tentang pertanian konvensional yang tidak mengindahkan keberlanjutan telah lama menjadi perhatian petani. Seperti yang diungkapkan oleh Sutarno, salah satu petani yang bertanam secara organik di Bungaraya. “Saya sedih melihat kondisi pertanian kita saat ini dan saya ingin memperbaiki kondisi itu” ungkap Sutarno.

Dalam pada itu, dukungan didapat dari Dinas Pertanian Kab. Siak. Melalui hasil diskusi ini Suwanto, Kabid Tanaman Pangan Distan Siak berencana akan mendukung pertanian berkelanjutan ini dalam rangka menuju beras bebas residu untuk 100 hektar sawah di Kampung Buantan Lestari sebagai pilot project tahun 2020. “Jika memang program 100 ha ini berhasil di Kampung Buantan Lestari, kita akan mengucurkan bantuan di desa-desa lain di Kab. Siak,” tantang Suwanto.

Utunk pengairan Dinas Bina Marga dan Pengairan Kab. Siak telah membangun pompanisasi untuk kebutuhan air di Kec. Bungaraya, pompanisasi ini diharapkan mampu mengakomodir kebutuhan air petani ketika musim kemarau. Seperti yang disampaikan Tengku Amri, Kabid Pengairan, Dinas Bina Marga dan Pengairan Kab. Siak. Selain itu Pemerintah Kab. Siak melalui Dinas Koperasi dan UMKM juga akan membantu petani dari sisi pemasaran di stan-stan acara yang dilakukan oleh pemerintah.

Menanggapi kegiatan ini Mukti Warsito, salah satu petani, mengatakan memang untuk di petani itu kuncinya adalah kepastian pasar. Karena jika sudah ada pasar yang jelas, petani pasti akan mengikuti program ini. “Untuk pemasaran awal selain kita jual ke tetangga kita juga bisa tawarkan ke dinas, ke pemerintah desa, sambal mengurus sertifikat bebas residu yang akan dibantu oleh ReCSI” ungkap Tri mengakhiri.

Foto bersama usai acara
About The Author

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *